Guru: Antara Keterpaksaan dan Panggilan Jiwa

Profesi guru, bagi sebagian orang, mungkin adalah cita-cita yang diimpikan sejak kecil. Namun, tak sedikit pula yang terjerumus ke dalamnya bukan karena panggilan jiwa, melainkan karena desakan keadaan. Kisah ini adalah tentang perjalanan kami menjadi seorang guru yang awalnya “terpaksa” memilih profesi ini, namun kemudian menemukan makna dan kebahagiaan di dalamnya.  Awalnya, menjadi seorang guru tidak pernah terlintas dalam benak. Cita-cita masa muda  melambung tinggi, membayangkan diri berkarier di bidang yang lebih glamor dan menjanjikan secara finansial. Namun, roda kehidupan berputar. Dan karena desakan waktu serta taiming yang tidak tepat dan tentunya desakan kebutuhan ekonomi keluarga memaksa kami untuk mencari pekerjaan yang cepat dan pasti. Sampai sampai keinginan untuk menjadi guru (yang bahkan tidak terlantunkan dalam doa sekalipun) akhirnya kami lantunkan dalam doa tatkala masih melakoni kerasnya kehidupan. Dan tanpa disangka, yang di atas pun seakan merestui keinginan ini. (alhamdulillah ‘ala kulli hal). 

  Hari-hari pertama menjadi guru terasa berat. kami merasa tidak memiliki passion, tidak tahu bagaimana cara mengajar yang baik, dan merasa canggung berhadapan dengan puluhan pasang mata yang menatap penuh harap. Materi pelajaran terasa membosankan, tugas-tugas administrasi menumpuk, dan “ma’isyah” yang diterima awalnya, jauh dari kata cukup. Terkadang,  merasa menyesal telah memilih profesi ini. Namun, seiring berjalannya waktu, ada sesuatu yang mulai berubah dalam diri kami. Lantaran  mulai memperhatikan murid-murid dengan lebih seksama. Utamanya ketika mereka sudah lulus dari sekolah, dan mendengar mereka sudah mendapatkan “Jatah” kehidupannya dengan bekerja sesuai dengan jurusan mereka waktu di sekolah, kemudian mereka bisa berkembang, tumbuh dan menapaki kehidupan mereka sendiri dengan bangga, dan itu membuat kami bahagia. Rasanya ada sesuatu yang wah, membuncah dan tidak bisa dibilang dan dikatakan….

Dari sinilah, benih-benih cinta terhadap profesi guru mulai tumbuh. Mulai menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga sebuah panggilan jiwa. Kami  merasa terpanggil untuk mendidik generasi muda, untuk membantu mereka meraih impian mereka, dan untuk menjadikan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Terlebih di Lembaga yang Islami semakin menguatkan tekad bahwa pilihan profesi ini tidak ada salah dan jeleknya. 

Cita-cita kami sekarang adalah memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada murid-murid . kami ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, memotivasi, dan membimbing mereka menuju kesuksesan. kami ingin menjadi guru yang dikenang oleh murid-murid sebagai sosok yang telah memberikan dampak positif dalam kehidupan mereka.

  Perjalanan sebagai guru memang tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. Namun, dengan keyakinan bahwa disertai niat yang tulus, kerja keras, dan semangat yang tak pernah padam, maka siapapun akan mampu mewujudkan cita-cita nya. Karena pada akhirnya, menjadi guru adalah tentang memberikan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa. Sekaligus sebagai celengan kebaikan di hari penghisaban kelak, karena yang kami Yakini apapun kebaikan (mengajar, melayani dan melancarkan) yang sangkut pautnya dengan ilmu itu nilainya selalu lebih di mata Allah SWT. 

Wallaahu a’lam bisshowab.